Menu

Giliran 566 Nelayan Tuban Kebagian Konkit Gratis

Giliran 566 Nelayan Tuban Kebagian …

Tuban, Pemerintah membagi...

Dirjen Migas Minta Nelayan Rawat Konverter Kit dari Pemerintah

Dirjen Migas Minta Nelayan Rawat Ko…

Tuban, Pemerintah terus m...

Ditjen Migas Selenggarakan Indonesia’s Oil and Gas Partnership Program 2017

Ditjen Migas Selenggarakan Indonesi…

Jakarta, Dalam rangka mem...

Yang Muda, Yang Cerita

Yang Muda, Yang Cerita

Kementerian Energi dan Su...

Prev Next
Super User

Super User

Tandon Air Biru Menyeka Embung Keruh Warga Lamongan

  • Published in Berita

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA

SIARAN PERS

NOMOR: 224.Pers/04/SJI/2019

Tanggal: 16 Maret 2019

Tandon Air Biru Menyeka Embung Keruh Warga Lamongan

Serakan botol air mineral bekas perlahan diacuhkan Dhofir. Sesekali ia mengernyitkan dahi, terdiam memandangi hamparan air keruh di depan mata. Berdiri menepi, mengingat kuatnya sengatan matahari. Sudah turun menurun, telaga desa (baca: embung) jadi pelepas dahaga. Tak peduli lagi warna dan rasa. Bagi warga Desa Sekaran, Kec. Sekaran, Kabupaten Lamongan mendapatkan air layaknya bak berburu harta mewah.

"Lamongan ini wilayahnya maju, perekonomian juga tidak ada masalah, hanya saja masalah air bersih dari dulu masih jadi kendala," keluh Dhofir dengan kaus lusuhnya pada Kamis (15/3). Sembari memegang bekas lubang sobekan bajunya, ia menyiratkan warna lusuh dari hasil cucian air embung. Tapi, tak ada pilihan lain bagi Dhofir. Embung menjadi sumber air utama setelah nyala air PDAM tak sanggup mengalir.

Embung adalah muara aktivitas harian warga. Minum, mandi hingga cuci pakaian berbondong-bondong menyedot air hasil curahan hujan. Berlumut, hijau dan kecoklat-coklatan tak jadi masalah. Bila pengasihan air dari langit itu tak tiba, pria berusia 39 tahun ini nampak pasrah. Ratusan rupiah mesti keluar dari kantong sakunya yang pas-pasanan sebagai tukang cocok tanam. "(Beli) buat masak sendiri, buat minum sendiri. Tergantung kebutuhan masing-masing keluarga," ujarnya. Seminggu sekali harus sedia minimal 10 jerigen air bersih buat memasak. Satu jerigen dihargai Rp1.000 hingga Rp2.000, dan Rp5.000 per galon untuk konsumsi air minum.

xc-IMG-20190316-WA0055.jpg.pagespeed.ic.

Musim kemarau membuat tampungan air embung dangkal. Dhofir berkisah warga setempat rela patungan memenuhi genangan air embung. Berjalan sekitar kurang lebih satu kilometer, derasnya aliran air sungai Bengawan Solo juga tak gratis semata. Ada biaya pemindahan lewat alat pompa sebesar 2 juta rupiah akibat jarak yang terlampau jauh. "Warga yang ambil air di embung dikenai iuran sekitar Rp60 ribuan/jam," tutur Dhofir. Masalahnya, pemindahan air ini juga membutuhkan waktu tak sebentar. Cekungan embung baru terisi penuh dalam waktu kurang lebih seminggu.

Cerita Dhofir terpancar pada ayunan tangan Marfu'ah. Wanita separuh baya ini lihai mengayunkan ember kecil bekas adukan semen. Hanya melangkah beberapa kaki dan bersekat jalanan desa, liukan tangannya membelah air keruh embung. "Ini buat minum entok (angsa)," nampak senyum bibirnya menyambut ramah di perkarangan rumah.

Berbalut baju merah dengan kain hijau menutup kepala, Marfu'ah sudah terbiasa menjalani kehidupan yang serba kekurangan air bersih. "Memang dari dulu. Kaya begini kondisi daerahnya. Kering," ungkapnya sambil melangkah menitip coklatnya alas tanah. Tubuh ringkihnya setia jadi penyanggah lilitan tangan tiap gotongan ember masuk ke rumah.

Beruntung, nenek tadi tak perlu tiap hari minum air hasil tentengannya dari embung. Kini, ia cukup lega, dekat rumah ponakannya Dhofir sudah terpasang instalasi air bersih, persis di samping rumahnya. "Saya tinggal sendiri, biasanya dari ponakanku yang sudah pasang (intalasi air bersih)," syukurnya dengan ucapan yang mulai terbata-bata termakan usia.

c-IMG-20190316-WA0053.jpg

Wajah Dhofir memang nampak ceria. Rekahan senyumnya kerap terpancar kala berbincang ringan dengannya. Telunjuk Dhofir berkali-kali mengarahkan ke tandon warna biru yang cukup mencolok tepat di pinggiran telaga desa. Penampungan air biru beserta satu bangunan berisi genset mengubah kondisi Dhofir dan para tetangganya. Aliran pipa baru mengikis saluran lama dari waduk.

"Sekarang hampir tak ada yang pakai embung, makanya tak terurus. Masyarakat antusias dan merasakan betul manfaat dari sumur bor dari Kementerian ESDM. Benar-benar hal yang tepat, sederhana tapi tak bisa diselesaikan dari dulu," kata Dhofir.

Sebagai oase baru, Dhofir pun bisa menghemat pengeluarannya seperlima puluh dibandingkan membeli air bersih dari penjualan-penjualan tangki-tangki. Setelah aset ini diserahkan oleh Kementerian ESDM kepada Pemerintah Daerah, maka sumur bor air tanah ini rencananya akan dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dengan biaya sebesar Rp2.000 per 1.000 meter kubik.

Begitu besarnya manfaat dari sumur bor air tanah ini, kisah menarik juga disampaikan oleh Sekretaris Desa Sambopinggir, Kec. Karangbinangun, Lamongan Ahmad Zainuri. "Warga desa setempat sampai-sampai kumpul bareng, melaksanakan hajatan berupa potong sapi," beber Zainuri.

Dua desa tadi merupakan bagian dari 10 desa yang mendapatkan bantuan sumur bor air tanah di Lamongan pada tahun 2018. Permasalahannya pun sama, krisis air bersih yang berkepanjangan saat dilanda musim kemarau. "Sesuai survei Badan Geologi memang wilayah ini layak mendapat sumur bor air tanah," kata Staf Ahli Menteri Bidang Perencanaan Strategis Yudo Dwinanda Priaadi mewakili Menteri ESDM sesaat sebelum meresmikan penyerahan sumur bor tersebut.

Meski sempat berbau belerang, Yudo mengakui lama kelamaan baunya bakal tak terasa lagi. Sebagai wilayah yang masuk masuk zona Pantura, musim kemarau bakal berjalan panjang. "Memang sekarang lagi musim hujan, tapi jika musim kemarau tiba, akan sangat terasa (manfaatnya)," papar Yudo di hadapan para warga.

Sebelumnya, Amin yang tinggal di Desa Sambopinggir menuntut kami keliling desa. Menemui waduk besar yang aktif difungsikan sebagai tempat pencarian sumber air. "Makin ke Utara, makin kering kalau musim kemarau. Makanya, tiap rumah pasang air penampungan hujan," ujarnya pria tambun berkacamata. Bedanya, di Sambopinggir sebagian besar warga sudah punya sumur air (bongbis) yang dangkal sekitar 20 meter. "Lumayan bantu kami," kata Amin. Ia pun bersyukur kala sumur bor air tanah dengan kedalaman 152 meter melengkapi kebutuhan air bersih mereka. "Sungguh ini penting bagi kami manfaatnya jika musim kemarau," ujar Amin. Ia pun bersyukur dan berharap bantuan Pemerintah ini mampu membasahi gersangnya tanah kelahiran mereka.

c-IMG-20190316-WA0061.jpg

Dua unit sumur bor di Desa Sekaran dan Sambopinggir adalah satu dari 322 unit yang dibangun Kementerian ESDM di Provinsi Jawa Timur pada tahun 2005 - 2018. Terhitung dalam kurun waktu empat tahun terakhir, Pemerintah sudah membangun 164 unit. Rinciannya, 12 unit di tahun 2015, 22 unit (2016), 53 unit (2017) dan 77 unit (2018). Pada Tahun 2019 ini, Pemerintah memetakan untuk Jawa Timur sebanyak 98 unit.

Dalam skala nasional hingga akhir tahun 2018, 2.288 titik sumur bor telah dibangun memberikan layanan air bersih kepada 6,6 juta jiwa. Dari titik-titik sumur bor tersebut mengalir 144,4 juta m3 /tahun untuk 499 Desa di 396 Kecamatan yang tersebar di 175 Kabupaten/Kota yang terdapat di 27 Provinsi seluruh Indonesia. Untuk tahun 2019 penduduk yang dilayani akan bertambah 1,8 juta jiwa melalui pembangunan 650 unit sumur bor di seluruh Indonesia.

 

Bantuan satu unit sumur bor terdiri dari sumur, pompa selam, rumah pompa, mesin generator kapasitas 10 kVA beserta rumah genset dan penampung air kapasitas 5.000 liter yang dilengkapi dengan kran.

 

 

 

Dirjen Migas Minta Nelayan Rawat Konverter Kit dari Pemerintah

  • Published in Berita

Tuban, Pemerintah terus mendorong peningkatan kesejahteraan nelayan kecil, antara lain dengan memberikan paket perdana konverter kit (konkit) sejak tahun 2016. Para nelayan penerima konkit diharapkan dapat merawat peralatan yang diterimanya secara gratis tersebut.

"Ini (konkit) dirawat ya. Di sini ada bengkel, nanti kalau ada kerusakan bisa diperbaiki. Tolong Bapak-bapak bisa merawat peralatan yang dibagikan Pemerintah," ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Ego Syahrial pada acara Pembagian Konverter Kit Untuk Nelayan kecil di Mangrove Center Tuban, Rabu (20/9) siang.

Ego mengatakan, para nelayan yang menerima paket perdana ini termasuk beruntung karena tidak semua nelayan dapat menikmati fasilitas ini. Keterbatasan anggaran Pemerintah, membuat pembagiannya harus berdasarkan prioritas. "Proses penentuan lokasi pembagian konkit merupakan kerja sama yaitu Kabupaten, Kementerian ESDM dan DPR RI. Kalau dilihat dari jumlah nelayan yang terbatas, kita bagi (konkit) berdasarkan skala prioritas," katanya.

3b24b0bd6c3a9ea57a215b2f3c6a677b.jpg

Untuk tahun ini, sebanyak 566 nelayan di Tuban memperoleh paket perdana konkit atau terbanyak dibandingkan daerah lainnya. Ini merupakan kali kedua karena tahun lalu sebanyak 330 nelayannya juga telah mendapat konkit. Paket konversi BBM ke LPG yang akan dibagikan adalah menggunakan mesin penggerak berbahan bakar bensin, tabung LPG 2 unit beserta isinya, konverter kit berikut aksesorisnya (reducer, regulator, mixer, dll) serta as panjang dan baling-baling.

Dalam dialog dengan nelayan, termasuk juga penerima peralatan tahun lalu, pada umumnya mereka tidak mengalami kesulitan dalam merawat konkit tersebut. Sebaliknya, mereka sangat berterima kasih karena merasa terbantu karena sejak menggunakan konkit berbahan bakar LPG ini, biaya operasional melaut dapat ditekan.

"Saya sudah dapat bantuan terlebih dahulu dan sudah merasakan (manfaatnya) karena selisih atau perbandingan dengan pakai bensin dan LPG, kalau saya 3 hari 1 tabung (LPG). Mungkin (nelayan) yang lain, saya tidak mengerti. Kalau menggunakan bensin, perlu 3 sampai 4 liter. Ini yang sudah saya rasakan," aku Kasnadi yang menerima paket tahun lalu.

Pembagian konkit oleh Pemerintah untuk nelayan kecil ini juga mendapat dukungan DPR RI. Wakil Ketua Komisi VII DPR Satya W. Yudha yang hadir dalam kesempatan tersebut mengatakan, pembagian konkit merupakan ide yang baik untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan. (TW)

Giliran 566 Nelayan Tuban Kebagian Konkit Gratis

  • Published in Berita

Tuban, Pemerintah membagikan 566 paket perdana konverter kit (konkit) kepada nelayan Desa Suko, Widang, Jenu dan Bancar, Kabupaten Tuban. Ini merupakan kali kedua nelayan di kota tersebut memperoleh bantuan paket konkit secara gratis. Sebelumnya pada tahun 2016, sebanyak 330 paket konkit telah dibagikan ke nelayan di Tuban.

Pembagian konkit untuk nelayan di Tuban ini, secara simbolis dilakukan di Mangrove Center, Tuban, Rabu (20/9) oleh Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Ego Syahrial serta Wakil Ketua Komisi VII DPR Satya Yudha. Hadir pula dalam acara ini, Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Migas Alimuddin Baso dan Region Manager Domestic Gas MOR V, Y. Hardjono dan wakil dari Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Tuban.

c30301c0ab662dfc2940a9f0396e3795.JPGPembagian konkit untuk nelayan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan ketahanan energi nasional melalui diversifikasi energi yaitu menyediakan alternatif energi yang dapat digunakan masyarakat. LPG dipilih sebagai energi alternatif yang dapat digunakan oleh nelayan karena sudah familiar di masyarakat serta kinerja mesin penggerak yang menggunakan LPG relatif sama dengan motor berdaya rendah.

Program konversi BBM ke LPG untuk nelayan juga bertujuan memberikan energi yang murah, bersih, aman dan ramah lingkungan. Selain itu juga membantu mengelola ekonomi masyarakat nelayan agar lebih sejahtera.

Nelayan Tuban yang tahun ini mendapat 566 paket perdana konkit merupakan terbesar dibandingkan kabupaten/kota lainnya. Pada tahun 2017, dibagikan 16.981 paket konkit dengan anggaran Rp 120,92 miliar untuk 26 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Demak, Pasaman Barat, Banyuwangi, Jembrana, Tuban, Lombok Barat, Lombok Timur, Makasar, Gorontalo, Karangasem, Pasuruan, Cilacap, Sukabumi, Probolinggo, Mamuju, Labuhan Batu, Agam, Pemalang, Pekalongan, Lamongan, Malang, Maros, Jeneponto, Sopeng dan Kota Padang, Makassar dan Surabaya.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Ego Syahrial mengatakan, kemampuan anggaran negara untuk menyediakan paket konkit untuk nelayan sangat terbatas apabila dibandingkan dengan jumlah nelayan kecil di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, usulan maupun pelaksanaan pembagian konkit harus dilaksanakan berdasarkan skala prioritas. "Proses penentuan lokasi pembagian konkit merupakan kerja sama yaitu Kabupaten, Kementerian ESDM dan DPR RI. Kalau dilihat dari jumlah nelayan yang terbatas, kita bagi (konkit) berdasarkan skala prioritas," ujar Ego.

4a6a39f120b5717438ce35e8fa5a6f8c.JPG

Kementerian ESDM c.q. Ditjen Migas menugaskan PT Pertamina (Persero) untuk melaksanakan program penyediaan, pendistribusian dan pemasangan Paket Perdana LPG untuk kapal perikanan bagi nelayan kecil di berbagai daerah seluruh Indonesia sejak 2016. Pada tahun lalu, Pemerintah telah mendistribusikan 5.473 unit paket perdana konverter kit di 10 Kota/Kabupaten pada 5 provinsi.

Menurut Ego Syahrial, program konversi BBM ke LPG bukan hanya menjadi tugas Pemerintah saja, tetapi juga membutuhkan partisipasi dan kerja sama semua pihak. Semua pihak harus terlibat dalam penyediaan alokasi gas bumi, ketersediaan dan pengoperasian infrastruktur untuk penyediaan dan pendistribusian LPG, serta jaminan ketersediaan LPG bagi para nelayan kecil pengguna menjadikan program konversi BBM ke LPG menjadi investasi bersama adalah salah satu cara.

Lebih lanjut dia mengatakan, badan usaha milik negara dan swasta dapat terlibat dalam penyediaan dan pendistribusian LPG untuk nelayan yang optimal. Selain itu, diperlukan juga keterlibatan badan usaha untuk layanan pemeliharaan konverter kit dan mesin kapal nelayan pengguna LPG, sehingga penggunaan LPG oleh para nelayan dapat dirasakan manfaatnya secara berkesinambungan.

Di samping itu, Pemerintah akan mendukung dalam seluruh aspek, yaitu aspek regulasi yang menjamin kepastian alokasi gas bumi untuk bahan baku kilang LPG, mendorong badan usaha untuk senantiasa menyediakan dan mendistribusikan LPG kepada nelayan, menetapkan harga gas bumi dan harga LPG yang optimum, menyiapkan porsi subsidi yang tepat sasaran untuk mendukung program konversi terjadi.

cdd756e4d314781964b7c168f721ae71.jpg

"Kemudian, sebagai langkah pendorong dan memasyarakatkan pemanfaatan LPG untuk nelayan, Pemerintah juga mendukung konversi dengan mendistribusikan konverter kit BBM ke LPG secara gratis," tambahnya.

Nelayan yang berhak menerima konkit nelayan harus memenuhi persyaratan, antara lain memiliki kapal dengan ukuran 5 GT, berbahan bakar bensin, memiliki daya mesin lebih kecil atau sama dengan 13 HP, menggunakan jenis alat tangkap yang ramah lingkungan serta belum pernah menerima bantuan sejenis.

Program pembagian paket perdana konverter kit BBM ke LPG dikhususkan untuk nelayan kecil dengan aktivitas mencari ikan sekitar 10 jam perhari atau bisa disebut one day fishing. Paket konversi BBM ke LPG yang akan dibagikan adalah menggunakan mesin penggerak berbahan bakar bensin, tabung LPG 2 unit beserta isinya, konverter kit berikut aksesorisnya (reducer, regulator, mixer, dll) serta as panjang dan baling-baling.

Penggunaan LPG dibandingkan BBM untuk nelayan kecil mendatangkan manfaat ekonomi yang besar. Berdasarkan penelitian dan pengalaman lapangan, penggunaan 1 tabung LPG 3 kg dapat disetarakan dengan 7 liter bensin, sehingga apabila unsur subsidi ditiadakan dalam perhitungan keekonomian, maka perbandingan nilai pengeluaran yang menjadi beban nelayan adalah Rp. 33.000 (harga 3 kg LPG non-subsidi) berbanding dengan Rp. 52.500 (harga 7 liter Bensin non-subsidi/Pertalite). Dengan demikian, terdapat selisih sebesar Rp. 19.500 yang dapat disisihkan untuk setiap penggunaan satu tabung LPG 3 kg pada saat nelayan mencari ikan. Penghematannya mencapai 50-60%. (TW)

 

Yang Muda, Yang Cerita

  • Published in Berita

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) melaksanakan Final Kompetisi Blog #15HariCeritaEnergi Dengan Tema: Energi Terbarukan dan Konservasi Energi di Balai Kartini, Jakarta pada Kamis, 14/9.

 

Kegiatan ini merupakan tahap akhir dari rangkaian Kompetisi Blog #15HariCeritaEnergi yang dimulai sejak 15 Agustus 2017. Final kompetisi dilaksanakan pada sesi Youth dan CSO Forum dalam rangkaian penyelenggaraan Indo EBTKE Conex 2017 in conjunction with Bali Clean Energy Forum (BCEF) 2017 pada tanggal 13-15 September 2017. Kompetisi ini sendiri merupakan kerja sama antara KESDM dengan International Energy Agency (IEA).

 

Dalam kesempatan ini 10 peserta diwajibkan melakukan presentasi selama kurang lebih 3 menit (elevator pitch mode) terkait #15HariCeritaEnergi yang telah ditulis pada periode 17-31 Agustus 2017. Sepuluh finalis yang diundang memiliki latar belakang pendidikan, profesi, dan cerita yang berbeda. Mereka juga menyajikan presentasi dengan bahan yang dibuat semenarik mungkin. Hadir sebagai narasumber Awang Riyadi dari Direktorat Jenderal EBTKE dan Kieran Clarke dari IEA. Sementara juri penanggap terdiri dari Dadan Kusdiana (Kepala Biro Kerja Sama, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama KESDM), Sugeng Mujiyanto (Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan EBTKE), dan Ananda Setyo Ivannanto (Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia).

 

Secara umum, finalis menyampaikan pandangan, harapan, dan terobosan mereka tentang pentingnya pemanfaatan energi terbarukan (EBT) sebagai sumber energi alternatif dan penerapan konservasi energi (KE) di Indonesia. Mereka sebagai kaum milenial menceritakan kepedulian dan peran serta generasi muda dalam membawa indonesia yang lebih baik khususnya dalam menghadapi kondisi keenergian saat ini.

 

Persyaratan peserta antara lain WNI berusia 18-30 tahun dan berdomisili di Indonesia, memiliki kanal blog dan media sosial aktif dengan follower minimal 500 orang, dan aktif di forum online. Peserta diwajibkan menulis minimal satu tulisan di blog masing-masing selama 15 hari berturut-turut yang tidak harus berseri, tetapi tetap mengangkat tema energi baru terbarukan dan konservasi energi. Penulisan cerita dimulai sejak tanggal 17-31 Agustus 2017.

 

Hasil penjurian menetapkan Luca Cada Lora, Yoga Pratama, dan Marlistya Citraningrum sebagai pemenang Kompetisi Blog #15HariCeritaEnergi dan berhak memperoleh grand prize pemenang yaitu mengunjungi kantor pusat IEA di Perancis .

Melalui kegiatan ini Pemerintah berharap generasi milenial yang adaptif terhadap kecepatan informasi dan kemajuan teknologi dapat berperan dalam komunitas dan lingkungannya yang lebih luas untuk menyebarkan pemikiran yang sama mengenai pentingnya pemanfaatan dan pengembangan EBT serta penerapan konservasi energi. (RWS)

Admin (Yudha)

Subscribe to this RSS feed

Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player

wmt Joomla Module