Menu

Dirjen Migas Minta Nelayan Rawat Konverter Kit dari Pemerintah

Dirjen Migas Minta Nelayan Rawat Ko…

Tuban, Pemerintah terus m...

Ditjen Migas Selenggarakan Indonesia’s Oil and Gas Partnership Program 2017

Ditjen Migas Selenggarakan Indonesi…

Jakarta, Dalam rangka mem...

Yang Muda, Yang Cerita

Yang Muda, Yang Cerita

Kementerian Energi dan Su...

Prev Next

JATIM BAKAL PUNYA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SAMPAH

Jatim Bakal Punya Pembangkit Listrik Tenaga Sampah

 

“Dalam rapat terbatas dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan beberapa menteri, Gubernur dan Walikota, menginstruksikan agar PLTSa betul-betul berjalan, bahkan memerintahkan kepada PLN agar membeli sesuai dengan Perpres Nomor 35 tahun 2018,” kata Kepala ESDM Jatim, Setiajit kepada petisi.co di Surabaya, Selasa (23/7/2019).

Perpres nomor 35 tahun 2018 tersebut tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan. “Perpres itu dasar hukum yang sudah jelas, jangan dibuat tidak jelas,” tegasnya.

Untuk melakukan uji coba itu, Dinas ESDM Jatim menujuk PT Megasurya Eratama sebagai mitra kerjanya. Hal ini terkait dengan dana yang dibutuhkan cukup besar. “Kami tidak punya APBD yang cukup. Harganya sekitar Rp 20 miliar. Awal Agustus sudah operasional,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya minta bantuan perusahaan itu untuk mengujicoba, karena perusahaan ini juga impor sampah kertas dan sisanya 3,9 persen dari sampah plastik. Padahal, Jatim memiliki jutaan ton sampah yang bisa dikelola dengan baik akan menghasilkan gas.

“Saya bilang kita bisa memanfaatkan sampah plastik. Dia punya power plan, tapi dari batubara. Nah, dengan menggunakan pirolisis ini, maka batubara tak perlu digunakan lagi. Dan bisa menghasilkan 7-8 megawatt dengan biaya Rp 30-40 miliar,” ungkapnya.

Menurutnya, salah satu yang daerah menjadi percontohan itu, yakni Surabaya. Di Surabaya ada 2 skema teknologi yang digunakan. Pertama menggunakan gasifikasi dengan memakai sampah. Mesinnya dari Swiss.

“Gas sampah itu, kemudian gasnya digunakan untuk mendorong power plan yakni, sanitary landfill. Di Surabaya skema sanitary landfill itu sudah jalan sebesar 1,65 megawatt. Lalu, dibeli oleh PLN sebesar 1,2 megawatt dengan harga Rp 1.250/kwh,” paparnya.

Skema kedua, kata Setiajit, menggunakan termal, yakni sampah dibakar lalu digunakan untuk mendorong power plan. Mesinnya berasal dari China. Besarnya 10 megawatt, keluarnya 8,31 megawatt. Dan, sudah ada perjanjian jual beli dengan PLN seharga Rp 1.450/kwh. Perjanjian ini, harus sesuai dengan perpres nomor 35 tadi.

“Jadi, tidak semata-mata be to be. Pemerintah itu memberikan subsidi kepada investor. Misalnya di Surabaya, ada PT Sumber Organik yang membangun power plan dengan cara Bild Operasion Transfer (BOT) selama dua puluh  tahun. Sekarang sudah dibangun, begitu operasional, dua puluh tahun setelah operasional, nanti diserahkan oleh pemkot Surabaya,” jelasnya. (*)

Last modified onTuesday, 30 July 2019 08:28
back to top

Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player

wmt Joomla Module