Menu

Produksi Lapangan Jangkrik Mayoritas Untuk Domestik

Karimun-Kepri, Berproduksinya Lapangan Jangkrik pada pertengahan 2017, akan meningkatkan produksi gas nasional sekitar 6-7%. Jumlah ini sangat berarti bagi pemenuhan kebutuhan energi nasional yang jumlahnya terus meningkat. Sebanyak 52% produksi Lapangan Jangkrik akan digunakan untuk dalam negeri.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan dalam sambutannya pada Upacara Penamaan Kapal FPU Jangkrik di Saipem Karimun Yard, Tanjung Balai, Kepulauan Riau, Selasa (21/3), mengatakan, produksi gas dari Lapangan Jangkrik dapat mencapai 450 MMSCFD. Ini berarti dapat menambah 6-7% produksi gas bumi Indonesia secara keseluruhan. Apabila kapasitas FPU Jangkrik dapat ditingkatkan menjadi 700-800 MMSCFD, maka proyek lainnya juga dapat menggunakan fasilitas ini secara bersama.

"Diharapkan kalau nanti bisa ditingkatkan kapasitasnya menjadi 700-800 MMSCFD, mudah-mudahan proyek IDD yang dikerjakan Chevron jadi, itu bisa menggunakan fasilitas FPU ini. Jadi tidak usah membangun lagi. Ada field di sebelahnya, mestinya juga bisa menggunakan fasilitas ini," ujar Jonan.

Peningkatan kapasitas ini, lanjut Jonan, nantinya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik nasional. Terkait pemenuhan gas bumi untuk dalam negeri, Pemerintah akan membuat panduan di mana DMO harus lebih besar untuk kepentingan nasional. Khusus untuk gas dari Lapangan Jangkrik, sebanyak 52% produksinya akan digunakan untuk kebutuhan dalam negeri.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri ESDM juga menyampaikan kebijakan Pemerintah untuk mendorong efisiensi besar-besaran dari seluruh capital expenditure (capex) maupun operational expenditure (opex) dari Industri hulu migas. Hal ini karena menurut Jonan, tidak ada satupun negara yang dapat mengubah, menaikkan atau menurunkan harga minyak dan gas bumi dunia. Efisiensi merupakan semangat dari Pemerintah maupun KKKS

Mengakhiri sambutannya, Menteri ESDM menyampaikan terima kasihnya kepada KKKS Muara Bakau terutama ENI sebagai operator atas partisipasinya mengembangkan migas di Indonesia. Apalagi, pembangunan FPU ini berhasil menghemat US$ 300 juta atau sekitar Rp 50 triliun dari yang semula direncanakan investasinya sebesar US$ 4,5 miliar, menjadi US$ 4,2 miliar. "Ini (penghematan) yang besar sekali. Selain itu, waktu pembangunannya juga 12 bulan lebih cepat dari rencana Pemerintah," kata Jonan.

Jonan juga menyampaikan terima kasih kepada Pemda Kepulauan Riau dan Karimun yang atas dukungannya terutama terkait kemudahan perizinan, sehingga proyek ini dapat berjalan lancar dan rampung lebih dari cepat dari target yang telah ditetapkan.

Hadir dalam Upacara Penamaan Kapal FPU ini, Ketua Komisi VII DPR Gus Irawan Pasaribu, Gubernur Kepulauan Riau Nurdin Basirun, Bupati Karimun Aunur Rafiq, Dirjen Migas Kementerian ESDM IGN WIratmaja Puja, Kepala SKK MIgas Amien Sunaryadi dan Executive Vice President ENI Asia Pacific Franco Polo.

Kapal FPU Jangkrik yang berukuran 200x46x40 meter ini merupakan FPU terbesar di Indonesia dan akan beroperasi di Blok Muara Bakau yang berlokasi di Cekungan Kutei, lepas pantai Selat Makassar, sekitar 70 km dari garis pantai Kalimantan Timur.

FPU Jangkrik merupakan fasilitas migas berbentuk kapal yang dirancang untuk memiliki pengolahan gas dan kapasitas hingga 450 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) dan pengolahan kondensat sebesar 4.100 barel kondensat per hari (BPCD). Sebanyak 10 sumur produksi gas bawah laut yang telah dikompresi dan siap untuk diproduksikan, akan dihubungkan dengan FPU yang kemudian akan mengolah dan menyalurkan gas menggunakan pipa bawah laut sepanjang 79 km dan selanjutnya ke darat yaitu ke dalam jaringan produsen gas Kalimantan Timur dan pada akhirnya kepada pemakai dalam negeri di Kalimantan Timur dan kilang LNG Bontang.

FPU Jangkrik juga berfungsi sebagai penyulingan dan menstabilkan kondensat serta menyalurkannya ke darat melalui jaringan distribusi setempat dan berakhir di kilang kondensat Senipah.

Penemuan gas pertama didapatkan pada tahun 2009 pada garis sumur Jangkrik-1. Di blok yang sama, pada sekitar 20 km di sebelah Timur Laut Lapangan Jangkrik, ditemukan lapangan Jangkrik North East pada tahun 2011. Rencana pengembangan (Plan of Development) lapangan Jangkrik disetujui tahun 2011, sedangkan Jangkrik North East tahun 2013.

Blok Muara Bakau dioperatori oleh ENI Muara Bakau B.V sejak 2002 dengan kepemilikan saham sebanyak 55% dan mitranya Engie E&P sebesar 33,3% serta PT Saka Energi Muara Bakau sebesar 11,7%. (TW)

 

back to top

Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player

wmt Joomla Module